Detik jam terus bergerak , tanpa
terasa jarum pendek berputar dengan cepat menunjukkan angka 10 dengan jarum
panjang menunjuk angka 12. Pukul 10 malam Naomi masih berkutat dengan setumpuk
soal yang bertender didalam buku, satu per satu soal diselesaikannya. Rasa
kantuk pun semakin berat, sepasang bola mata pun ingin terlelap. Dering ponsel
Naomi berdering nyaring seakan memecahkan keheningan, pertanda pesan masuk,
dengan malas Naomi mengambil ponsel disudut mejanya. Matanya seketika terbelak seakan
terjadi sesuatu yang tak diinginkan lagi dalam kehidupannya, ia masih ingat
deretan angka yang sering muncul diponselnya, karena mustahil sekali jika Naomi
tidak mengingat nomor tersebut, nomor ponsel yang telah ia hapus muncul kembali
tanpa diharapkan. Ia segera membuka pesan tersebut, “Apakah kamu masih
mengingat ku ?” Naomi hanya bisa terdiam membaca pesan tersebut, tak ada yang
bisa ia ucapkan, “Bagaimana kabarmu ?” pesan masuk baru muncul dengan cepat dan
membawa pikiran Naomi kembali kepada masa putih abunya.
“Danny kau satu kelompok dengan Ishida”
suara lantang pria bertubuh jangkung dengan kacamata yang terpasang diwajah,
wibawa seorang guru pun tampak pada dirinya.”aku harap kalian bisa menjadi
kelompok yang baik, terutama kau Dannny, perbaikilah nilai-nilai mu itu dan
hilangkan rasa malas mu !”ucap guru Yuan dengan tegas. Tugas kelompok guru
Yuan, dimana tiap kelompok terdiri dari satu murid berprestasi dan satu murid
pemalas. Tugas ini sudah menjadi tugas tahunan murid kelas tiga khususnya pada
mata pelajaran matematika. Tiap minggu guru Yuan memberikan 10 soal pada
tiap-tiap kelompok, dan ia akan meminta murid pemalas untuk menjelaskan
soal-soal yang telah ia berikan.
Ishida Naomi menarik napas dengan
panjang, ia merasa sangat tidak beruntung kali ini. Bagaimana bisa ia satu
kelompok dengan Danny, murid laki-laki yang sangat pemalas, menyepelekan semua
pekerjaan rumahnya, masuk sekolah terlambat dan sial sungguh sial, ia
benar-benar harus bekerja keras karena satu kelompok dengan Danny dan ia pun
tidak ingin mengecewakan pesan guru Yuan untuk membantu Danny meningkatkan
nilai-nilainya, dua hal yang sangat membingungkan tak ada pilihan lain yang
bisa dipilih.
Naomi benar-benar tidak bisa
berkonsentrasi, sepanjang hari ia hanya memikirkan ketidak beruntungannya satu
kelompok dengan Danny, pikirannya pun sudah tak menentu, ia sangat bingung
memikirkan cara bekerja sama dengan Danny, karena Naomi yakin Danny akan sangat
malas mengerjakan soal-soal ini, ia melamun memikirkan ini semua. Kesialannya pada
jam pertama mata pelajaran guru Yuan membuat Naomi malas mengerjakan apapun
hari ini, ia terus saja melamun sepanjang hari. Hingga akhirnya, bel panjang
pun berbunyi membuyarkan lamunan Naomi. Ia pun segera memasukan buku-bukunya
kedalam tas. Anak-anak kelas berlalulalang untuk meninggalkan sekolah,
tiba-tiba seorang murid laki-laki menghampiri Naomi. “ Ishida Naomi, apakah kamu bisa mengerjakan tugas ini sendiri ?" tanya
Danny dengan suara enteng. "Apa maksud mu ? apakah kamu tidak ingin
mengerjakan soal-soal guru Yuan ?" jawab Naomi dengan sedikit sewot.
" Ya itu maksud ku, lagi pula aku sangat yakin kamu bisa mengerjakan
soal-soal ini dengan benar " jawab Danny sembari menunjuk-nunjuk soal guru
Yuan "Bagaimana bisa kamu menyepelekan tugas ini, apakah kamu ingin
dimarahi guru Yuan karena tidak bisa mengerjakan soal-soal ini ?" Naomi
menjawab jengkel " Sudahlah, kita tidak perlu berdebat, kerjakan saja
tugas kelompok ini dengan baik, dan akan ku laporkan pada guru Yuan bahwa kita
telah mengerjakan tugas ini secara bersama " nada suara Danny menyepelekan
" Kamu benar-benar orang yang pemalas, bagaimana kamu akan lulus di ujian
akhir dengan malas seperti ini ? berikan saja nomor ponsel mu dan akan kuberi
tahu kapan kita mengerjakan soal ini jawab Naomi sembari menyodorkan ponselnya.
"Baiklah-baiklah" Danny pun memberikan nomor ponselnya kepada Naomi.
Dengan cepat Danny meninggalkan Naomi dikelas, langkah kakinya yang semakin
menjauhi kelas membuat Naomi menghela napas beratnya. Ia benar-benar bingung
cara apa yang akan ia lakukan lagi agar Danny berniat mengerjakan soal-soal
dari guru Yuan.
Naomi
merebahkan dirinya diatas kasur, lampu yang belum menyala membuat ia ingin
segera terlelap, rasa lelah dan kantuk pun menyerang bola matanya. Ia merasa
hari ini begitu panjang apalagi setelah pembagian kelompok itu, membuat hari
Naomi semakin melelahkan. Ia menyalakan lampu kamarnya dan melihat jam yang ada
pada ponselnya, pukul 7 malam, ia sudah merasa sekantuk ini, tiba-tiba ia
teringat akan Danny, Naomi pun segera mengirimkan pesan singkat pada Danny
" Esok pagi pukul 9 ditaman sekolah. IN " Naomi menyertakan inisial
namanya pada pesan singkat tersebut. Ia menunggu pesan masuk baru muncul dari
Danny, dan nyatanya hingga pukul 9 malam tak ada satu pun pesan masuk darinya,
sungguh tidak bisa diharapkan.
Cahaya matahari muncul dengan
perlahan, memaksa Naomi untuk membuka kedua matanya, ia sengaja tidak memasang
alarm pagi karena ia ingin melepaskan seluruh rasa lelahnya. Naomi bergegas untuk sarapan pagi, ia
hampir melupakan janjinya bertemu dengan Danny di taman sekolah. Naomi duduk
dibangku taman sembari melihat kanan kiri dan sesekali melirik jam tangannya.
Pukul 10 ia belum saja datang, Naomi pun terus menggerutu dalam hatinya dan ia
ingin segera mencaci maki Danny, karena ia telah membuat Naomi menunggu selama
satu jam. Ia pun mengambil ponsel yang ada pada saku celana jeansnya dan dengan
cepat menghubungi nomor Danny, “Hallo Ishida ?” suara di sebrang sana “Danny
kamu mencoba mengingkari janji mu ? kamu pikir ini sudah pukul berapa ?” jawaban naomi terdengar begitu keras dan
penuh amarah “ Ishida Naomi apakah kamu tidak membaca pesan ku semalam?” Naomi
segera mematikan ponselnya dan membuka beberapa pesan masuk “Pukul 9 ? ayolah
aku tidak bisa bangun pagi untuk hari minggu, mungkin pukul 11 lebih baik” Pesan pertama Danny yang bertuliskan pukul 10 malam “Aku
harap kau setuju, dan kuputuskan kita bertemu pukul 11 pagi” pesan kedua Danny
yang baru saja Naomi baca pagi ini. Ceroboh, benar-benar ceroboh, bagaimana
bisa ia tidak membuka ponselnya sedikit pun. Jika ia membuka pesan ini pada
saat dirumah, maka ia tidak akan menunggu untuk selama ini.
Tepat pukul
10.30 Danny berlari-lari menghampiri Naomi yang sedang duduk berpangku dagu
dibangku taman “Ishida Naomi” panggil Danny dengan terenggah-enggah, Naomi
membalikan kepalanya dan tersenyum kecil kearah Danny “Hai Danny” sapa Naomi
singkat “Apakah kamu marah padaku ?” tanya Danny dengan sedikit ragu
“Tidak,tidak aku tidak marah, lagi pula tidak ada yang salah disini” Naomi
tersenyum sambil menggoyang-goyangkan tangannya , “Baguslah kalau begitu, kitan
mulai saja mengerjakan soal ini” tukas Danny dengan cepat.
Hari demi
hari terlewati, minggu menuju bulan pun sudah dilalui, tugas kelompok antara
Danny dengan Naomi dan kebersamaan yang dilalui bersama membuat mereka semakin akrab, tempat yang sering mereka
kunjungi untuk tugas kelompok pun semakin banyak, bukan hanya ditaman sekolah ,
perpustakaan kota pun sudah sering mereka kunjungi. Hari-hari yang mereka lalui
memunculkan berbagai perasaan dalam diri Danny pada Naomi, dan ia akan
menyembunyikan dahulu semua perasaannya pada naomi, Karena ia yakin ini bukanlah waktu yang tepat
membicarakan hal seperti ini, ia harus memikirkan ujian akhir yang akan segera
tiba, dan tidak akan ada waktu untuk membicarakannya pada Naomi.
Dua hari
lagi menuju ujian akhir, Danny dan Naomi
mempersiapkan diri mereka masing-masing. Tugas Naomi membantu Danny memperbaiki
nilai-nilainya terselesaikan dengan sempurna. Laki-laki pemalas bernama Danny
sudah memiliki niat belajar dengan giat untuk ujian kahir, dan 3 hari yang
begitu mendebarkan telah terlewati dengan baik, nilai-nilai yang didapatkan
Danny pun memuaskan, hanya saja tidak bisa dibandingkan dengan nilai Naomi yang sangat luar biasa.
Hri
kelulusan pun tiba, tidak terasa masa putih abu telah berakhir selama 3 tahun.
Danny merasa ini waktu yang sangat tepat menyatakan perasaannya. “Ishida naomi,
dapatkah kita bicara ?” tanya Danny sembari menampilkan wajah ceria dan naomi
pun pergi meninggalkan kerumunan teman-temannya. “baiklah Ishida, seharusnya
aku tidak mengatakan hal ini tapi ...” ucapan danny sedikit terbat-bata
“Sebenarnya aku menyukai mu” dengan cepat Danny mengatkan kata-kata tersebut.
Naomi benar-benar kaget dengan semua ucapan Danny, ia mencoba untuk bicara,
tetapi Danny menangkasnya dengan cepat “Aku tidak ingin mendengar jawaban mu
saat ini, kamu bisa menjawabnya stelah aku berada di perguruan tinggi” setelah
mendengar ucapan Danny, Naomi pun bergegas pergi.
Danny
benar-benar bersemangat mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, inilah alasan
mengapa Danny menginginkan jawaban Naomi setelah ia masuk perguruan tinggi, ia
akan tetap bersemangat menjalani ujian ini dan jika Danny lulus dalam ujian ini
maka Danny akan mendapat jawaban dari Naomi, entah itu jawaban ya atau tidak,
tapi Danny sangat yakin dengan hal itu.
Tiba saatnya
kelulusan itu tiba, dimana Danny masuk dalam seleksi perguruan tinggi, kebahagiaan
sungguh terlukiskan pada wajahnya. Dengan cepat Danny mengeluarkan ponsel
disakunya dan menelpon Ishida naomi. Sudah berkali-kali Danny menelpon, tak ada
satu pun jawaban yang diberikan Naomi. Ia pun berpikir untuk tidak
mengganggunya beberapa waktu agar ia bisa memikirkan lagi semuanya.
Fakta lain
yang membuat Danny gembira, bahwa Keiko teman SMP nya dahulu sekarang menjadi
teman kampus Naomi bahkan bisa dibilang sahabat dekatnya. Hal ini sangat
mempermudah Danny mencari tahu tentang kabar Naomi dan tentu saja bagian
menanyakan perasaan Naomi pun takkan terlewat. Keiko mengatkan bahwa
akhir-akhir ini Naomi sangat sibuk sebagai mahasiswa baru dan mungkin saja ini
alasan Naomi belum memberikan jawabannya pada Danny, dan Keiko akan menanyakan
lagi bagaimana perasaan Naomi pada Danny.
Pertemanan
antara Keiko dengan danny semakin erat apalagi setelah Danny mengetahui Naomi
satu kampus dengan keiko. Danny seringkali mengajak Keiko bertemu dan
menanyakan apapun tentang Naomi. Pertemuan-pertemuan kecil seperti itu
memunculkan perasaan Keiko pada Danny, begitu pula dengan Danny perlahan
perasaannya kepada Naomi menghilang karena ketidak pastian dan memunculkan rasa
baru, perasaan baru pada Keiko. Samp[ai suatu saat “Danny, tak bisakah kamu
melihat ku?” Suara Keiko terdengar yakin “ tak bisakah kamu melupakan Naomi?”
Sambung Keiko dengan hati-hati. Danny diam sejenak, melihat mata coklat keiko
lekat “Mungkin saat ini masih tersiasa dihatiku perasaan pada Naomi dan
sebagian perasaan ini bertumpu pada mu” senyum cerah terlihat pada dirinya.
Dengan berat
hati keiko jujur pada naomi tentang perasaannya pada Danny, Naomi sungguh
kecewa, marah ingin menangis, semua bercampur aduk pada dirinya. Tapi apa yang
bisa ia lakukan? Marah? Untuk apa marah, karena ia sudah memendam perasaan ini
sejak awal, ia pun tidak memberikan kepastian bagaimana perasaannya pada Danny.
Naomi merelakan semua ini, semua perasaan yang ia pendam dan tak pernah Danny
ketahui. Bukankah Danny menunggu jawabannya ? bagaiman bisa ia seperti ini, melupakkan
semua pertanyaannya dan pergi melupakan Naomi dan menjalani hidup barunya
dengan Keiko. Laki-laki seperti apa dia ? mengingkari semua ucapan-ucapannya,
sungguh tidak bisa di percaya.
Bayangan
masa lalunya terhenti, terpecahkan oleh dering ponsel Naomi, pesan masuk baru
muncul kembali, “Kenapa kamu tidak membalas pesan ku Naomi?” pesan ketiga Danny
yang belum Naomi jawab satu pun. Naomi menghela napas berat, mengingat kisah
cinta pertamanya yang begitu membingungkan. Ia sangat menyadari takdir ini, dimana
cinta pertamanya tak pernah ia miliki, cinta pertama Naomi yang dimiliki oleh
sahabatnya. Ketika Naomi mengingat cinta pertamanya dia muncul kembali tanpa
diharapkan dan mungkin akan pergi kembali tanpa mengucapkan apapun. Naomi
segera mematikan ponselnya dan melirik jam di dinding kamarnya, sudah sangat
larut, ia memejamkan kedua matanya dan berharap ingatan-ingatannya mengenai
Danny akan pergi seperti mimpi buruk yang dengan cepat menghilang dalam
memorinya.
Sebenernya ini cerpen pertama gue, tokoh tokohnya gue ambil dari salah satu novel terkemuka * jiaaah* pecinta novel pasti tau. Tapi pure cerita dan alur hasil imajinasi gue and kalo ada yg mau copy cerpen ini buat tugas atau kenang kenangan di kamar lo *hahaha* gue ikhlas *smile* but u can gift comment for my post karena kritik dan saran membantu thyu.
Comments
Post a Comment